BUNUH DIRI ATAU JUAL DIRI
18 September 2019 adalah hari yang menyakitkan bagiku karena di hari itu ibuku meninggal dunia karna di tabrak tronton. Hari yang cukup membuatku terpuruk sebenarnya, mengingat ibuku yang tadinya kami pergi untuk bersuka cita, tapi malah berbalik menjadi duka cita. Dan hari itu seperti hari kiamat bagiku. Karna tak pernah terbayangkan hidupku tanpa ibuku. Tapi aku berfikir lagi ini semua sudah rencananya Allah SWT. Dan aku harus kuat demi adik² dan bapakku, karna aku anak pertama dari 4 bersaudara. Sekarang gimana aku harus mempunyai peran ganda harus jadi ibu untuk anakku, dan harus jadi ibu untuk adik²ku.
Kami sekeluarga masih duduk di ruang tamu setelah proses pemakaman ibuku untuk menyambut tamu² yang datang. Aku, adik², bapak, dan suamiku berusaha untuk tegar. Pro dan kontra menyelimuti suasana hati kami. Ada yang beranggapan bahwa sebenarnya ibuku gak mungkin di tabrak klo perginya pakai mobil, padahal mereka tidak tau kalau ibuku sendiri yang menolak untuk pergi pakai mobil. Ada juga kelompok yang lebih religius berpendapat bahwa ini sudah takdir Allah SWT hanya jalannya saja yg berbeda. Namun di hari itu, suasana haru dan berduka dari teman-teman yang datang menyelimuti hati kami sekeluarga.
Sebelum ibuku meninggal aku bekerja dan ibuku yang menjaga anakku. Ibu bekerja, aku menjalani kehidupanku seperti biasa. Selayaknya ibu bekerja pada umumnya. Berangkat kerja, pulang kerja, ngurus anak, besoknya begitu lagi, tak kenal lelah sedikit pun karna aku bekerja untuk keluargaku.
Masalah ekonomi mulai datang ketika aku memilih untuk tidak bekerja setelah ibuku meninggal. Padahal sebelumnya selama aku masih bekerja keadaan keuangan tercukupi. Uang suami untuk kebutuhan keluarga kecil kami, dan uang gaji aku full untuk kebutuhan rumah. Yang di mana aku menjadi tulang punggung keluarga , adik 3 orang dan ke 2 orang tuaku. Dan sekarang semua kebutuhan rumah cuma menggarap uang suami aku, dan itu membuat ku mulai berhutang untuk mencukupi biaya hidup hari².
Hingga suatu hari aku merasa sangat tertekan karna hutang makin hari makin bertambah, sehingga aku gali lobang tutup lobang. Saat itu aku baru mengetahui bahwa aku benar-benar terperangkap dalam hutang. Aku bingung bagaimana cara membayar hutang² itu. Sedih tak terkira, rasa khawatir, ragu, dan kepercayaan yang menurun terhadap iman. Namun semua itu tidak terlalu aku tampakan kepada keluarga ku.
Saat pertama berhenti kerja semuanya masih baik² aja, karena aku kira gaji suami bisa mencukupi semuanya. Anakku pun senang karna aku tidak bekerja lagi, harapannya tercapai untuk bundanya berhenti kerja. Anakku adalah anak yang sangat cantik dan pintar. Semua orang terkesan melihatnya. Sejak ia lahir, dia Menjadi cahaya yang menerangi rumah kami.
Waktu itu, aku sempat jualan di rumah. Tapi semua tak berjalan lama karna uang untuk modal jualan selalu terpakai untuk kebutuhan sehari-hari. Sedangkan uang gaji suami sudah untuk bayar beberapa cicilan. Di saat itu aku masih bisa bertahan dan berpura-pura baik² saja di depan mereka. Meski banyak orang yang menagih hutang kepadaku. aku tetap memotivasi diriku sendiri untuk tetap berjuang kalau aku pasti bisa melunasi hutang-hutangku. Meski aku kerap tidak nyaman dengan perlakuan mereka yang menagih. yang seolah merasa aku tidak mau membayar hutang Mereka.
Suatu hari, datanglah masa itu. Di saat harapan datang, di tengah harapan akan kesuksesan bisnis yang aku jalani, aku sudah membayangkan saat itu, aku akan menyicil Hutang-hutangku, Namun harapanku menjadi rumit sejak usaha jualan ku mulai sepi pembeli. Aku mulai berhutang lagi. Aku tidak berpikir bagaimana aku membayar hutang lagi, sedangkan hutang yang masih ada belum terbayarkan. Yang aku pikirkan hanya kebutuhan adik² ku , anakku dan bapakku terpenuhi. Sehingga pada akhirnya, aku benar-benar menyerah dengan keadaan, rasanya tak mampu aku menutupi semua ini dari keluarga, terutama dari suamiku. Di satu sisi aku merasa kasihan melihat suamiku. Tapi di sisi yang buat aku kuat karna aku berhutang untuk keluargaku, untuk perut keluargaku, bukan untukku sendiri. Hampir setiap hari banyak yang menagih hutang kepadaku. Sampai akhirnya aku mencoba untuk pinjaman online. Entahlah kenapa waktu itu aku bodoh sekali sampai berani minjam online. Bukannya membantu malah makin membuat ku sengsara.
Dan apa yang terjadi seperti petir yang menyambar secara tiba-tiba di hari yang terik. Aku terjerat puluhan aplikasi pinjaman online, dan akupun memberanikan diri untuk bercerita dengan ssuamiku dan menunjukkan semua bukti² pengeluaran selama ini. alhamdulillah aku di beri suami yang berhati malaikat, walaupun awalnya dia sempat marah karna aku tidak jujur tentang keadaan tapi Alhamdulillah dia coba membantu dengan meminjam uang kepada temannya. dan uang itu akan di kembalikan dengan cara cicil per bulan.
Hari demi hari terus berlalu, dan hari² juga otakku berfikir keras untuk membayar hutang-hutang ini. Sampai suatu hari seseorang menghubungiku. Dia ingin menanyakan perihal hutangku, Dia meminta uangnya segera aku lunaskn, dan aku hanya pasrah saat di caci maki olehnya. Aku diam , karna aku pikir wajar dia seperti itu karna disini aku yang bersalah. Aku yang berhutang. Astaghfirullah... Aku hanya menarik nafas panjang dan mengatakan secepatnya uang itu akan aku kembalikan. Dan seiring waktu berjalan bapak n adik² ku pun tau aku terlilit hutang. Bahkan hampir sebagian besar keluarga ku pun tau. Alhamdulillah semua mereka suport aku. Dan aku kuat karna itu.
Setelah semua tahu aku terlilit hutang, aku merasa sedikit lega setidaknya tidak ada yang aku tutupi lagi. Karna sudah mulai hidup amat sederhana akhirnya aku setiap hari keluar untuk cari dan untuk menghindar dari adek² n anakku. Tiap hari aku tinggalkan mereka karna kalau aku di rumah aku tak tega ketika melihat mereka makan dengan seadanya. Apalagi anakku , aku tak tega saat dia meminta untuk di belikan kue sedangkan aku tidak ada uang sepeser pun. Aku pergi kesana kemari untuk mencari pertolongan, mencari pekerjaan. Pekerjaan apapun yang bisa kulakukan. Namun semua semua tak ada yang bisa membantu, tak ada yang memberiku pekerjaan. Dalam hati aku mengeluh kepada Allah, bagaimana bisa, aku yang sedang berada di titik bawah sekali, Allah malah menutup semua jalanku? Ya Allah berikan keluangan waktu, dan rezeki sehingga aku bisa melunasi hutang-hutangku.
Komentar
Posting Komentar